Pendekatan, Landasan, Prinsip dan Prosedur Pengembangan & Inovasi Kurikulum PAI

A. Pendekatan Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendekatan berati proses, cara, perbuatan mendekati; atau usaha dalam rangka aktivitas penelitian untuk mengadakan hubungan dengan orang yang diteliti, metode untuk mencapai pengertian tentang masalah penelitian. Jika hal ini dikaitkan dengan kurikulum, maka pendekatan adalah cara kerja dengan menerapkan strategi dan metode yang tepat dengan mengikuti langkah-langkah pengembangan yang sistematis agar memperoleh kurikulum yang lebih baik.

Dalam mengembangkan teori kurikulum terdapat empat bentuk pendekatan yang bisa digunakan dalam proses pengembangan kurikulum, diantaranya adalah: Pendekatan Subyek Akademis, Humanistis, Tekhnologis dan Rekonstruksi Sosial.


B. Landasan Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Istilah landasan ada yang menamakannya dengan azas ada pula dengan istilah acuan atau dasar, akan tetapi semuanya sama yaitu yang mendasari pengembangan kurikulum. Landasan dapat dijadikan sebagai pondasi dalam sebuah bangunan, Apabila pondasi tersebut memenuhi standar maka dapat dikatakan bangunan yang ada di atasnya akan berdiri kokoh, begitu juga halnya dengan sebuah kurikulum apabila azas-azasnya sesuai dengan ketentuan yang yang menjadi tuntutan sebuah kurikulum. 


Sabda Rasulullah : Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmunya dan barang siapa menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat) hendaklah ia menguasai ilmunya, dan barangsiapa menghendaki keduanya, maka hendaklah ia menguasai ilmu keduanya. (Hadist Nabi).


C. Prinsip Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Secara etimologi prinsip memiliki makna beranekaragam yaitu asas, dasar, etika, hakikat, pokok, rukun, sendi, ajaran, diktum, dogma, doktrin, kaidah, patokan, pedoman, pijakan, opini, paham, pandangan, pendapat, pendirian, sikap. Selain itu, berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia, prinsip adalah dasar, asas atau kebenaran yang menjadi pokok dasar berpikir, bertindak. 

Makna pengembangan kurikulum menurut Muhaimin diartikan sebagai berikut: 1) kegiatan yang dapat menghasilkan kurikulum PAI, 2) proses yang mengaitkan satu komponen dengan komponen yang lain untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik, 3) kegiatan mendesain pelaksanaan, penilaian dan penyempurnaan kurikulum PAI. 


Dasar Agama adalah dasar yang ditetapkan nialai-nilai ilahi yang terdapat pada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang merupakan nilai yang kebenarannya mutlak dan universal. Prinsip dalam pendidikan Islam tentang penyusunan kurikulum menghendaki keterkaitannya dengan sumber pokok agama yaitu al-Qur’an dan Hadis. Prinsip yang ditetapkan Allah SWT. dan diperintahkan Rasulullah Saw. berikut ini dapat dijadikan pegangan dasar kurikulum tersebut:

“Carilah segala apa yang telah dikaruniakan Allah kepadamu mengenai kehidupan di akhirat dan janganlah kamu melupakan nasib hidupmu di dunia dan berbuatlah kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. (Q.S. Al-Qisas : 77)

D. Prosedur Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI

Pengertian Prosedur Pengembangan Kurikulum PAI

 Menurut Muhammad Ali, Prosedur adalah tata cara kerja atau cara menjalankan suatu pekerjaan. Amin Widjaja, Prosedur adalah sekumpulan bagian yang saling berkaitan. Kamaruddin, Prosedur pada dasarnya adalah suatu susunan yang teratur dari kegiatan yang berhubungan satu sama lainnya yang berkaitan melaksanakan dan memudahkan kegiatan utama dari suatu organisasi. Sedangkan pengertian prosedur menurut Ismail masya, Prosedur adalah suatu rangkaian tugas-tugas yang saling berhubungan yang merupakan urutan-urutan menurut waktu dan tata cara tertentu untuk melaksanakan suatu pekerjaan yang dilaksanakan berulang-ulang.


E. Fungsi Pendekatan, Landasan, Prinsip, dan Prosedur Pengembangan dan Inovasi Kurikulum PAI dalam Pendidikan Era Society 5.0

Pendidik Profesional Era Society

Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 seperti Internet on Things (internet untuk segala sesuatu), Artificial Intelligence (kecerdasan buatan), Big Data (data dalam jumlah besar), dan robot untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Society 5.0 juga dapat diartikan sebagai sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi.

Terjadi perubahan pendidikan di abad 20 dan 21. Pada 20th Century Education pendidikan fokus pada anak informasi yang bersumber dari buku. Serta cenderung berfokus pada wilayah lokal dan nasional. Sementara era 21th Century Education, fokus pada segala usia, setiap anak merupakan di komunitas pembelajar, pembelajaran diperoleh dari berbagai macam sumber bukan hanya dari buku saja, tetapi bias dari internet, bernagai macam platform teknologi & informasi serta perkembangan kurikulum secara global, DIindonesia dimaknai dengan merdeka belajar.

“Menghadapi era society 5.0 ini dibutuhkan kemampuan 6 literasi dasar seperti literasi data yaitu kemampuan untuk membaca, analisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Kemudian literasi teknologi, memahami cara kerja mesin, aplikasi teknologi (coding, artificial intelligence, machine learning, engineering principles, biotech). Dan terakhir adalah literasi manusia yaitu humanities, komunikasi, & desain,” kata Dwi Nurani.

Peran Pendidik Era Society 5.0

Sebagai Pendidik di era society 5.0, para guru harus memiliki keterampilan dibidang digital dan berpikir kreatif.  Menurut Zulfikar Alimuddin, Director of Hafecs (Highly Functioning Education Consulting Services) menilai di era masyarakat 5.0 (society 5.0) guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas (Alimuddin, 2019).

Oleh karena itu ada tiga hal yang harus dimanfaatkan pendidik di era society 5.0. diantaranya Internet of things pada dunia Pendidikan (IoT), Virtual/Augmented reality dalam dunia pendidikan, Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh pelajar.

“Pendidik juga harus memiliki kecakapan hidup abad 21 yaitu memiliki kemampuan leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, entrepreneurship, global citizenship, team working dan problem solving. Fokus keahlian bidang pendidikan abad 21 saat ini dikenal dengan 4C (Risdianto, 2019) yang meliputi creativity, critical thinking, communication dan collaboration,” tambahnya. Tenaga pendidik di abad society 5.0 ini harus menjadi guru penggerak yang mengutamakan murid dibandingkan dirinya, inisiatif untuk melakukan perubahan pada muridnya, mengambil tindakan tanpa disuruh, terus berinovasi serta keberpihakan kepada murid.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PENGEMBANGAN DAN INOVASI MATERI PEMBELAJARAN PAI

PENGEMBANGAN DAN INOVASI SILABUS DAN RPP PAI

Pengembangan dan Inovasi Teori Pembelajaran PAI